Dongeng Nyata di Tepi Danau: Revolusi Como 1907 dari Kasta Keempat Menuju Liga Champions
Sepak bola sering kali menyajikan drama yang sulit dinalar, namun apa yang terjadi di Stadion Giuseppe Sinigaglia dalam tujuh tahun terakhir melampaui sekadar drama biasa. Ini adalah sebuah romansa tentang kebangkitan, visi bisnis yang tepat, dan ambisi yang tak terbendung. Cesc Fabregas, sang nakhoda tim, tidak berlebihan ketika mengatakan bahwa Como 1907 adalah klub yang akan membuat siapa pun mudah jatuh cinta. Dari tim semenjana di kasta keempat (Serie D), kini Como berdiri tegak sebagai penantang serius tiket Liga Champions.
Transformasi Kilat: Era Hartono dan Akselerasi Mimpi
Mundur ke musim 2018-2019, Como 1907 hanyalah sebuah titik kecil di peta sepak bola Italia. Mereka berkutat di Serie D, kasta yang jauh dari gemerlap lampu stadion megah dan sorotan kamera internasional. Namun, takdir klub beralias Il Lariani ini berubah total pada April 2019. Masuknya pengusaha asal Indonesia, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, menjadi katalisator yang mengubah segalanya.
Di bawah kepemilikan keluarga Hartono, Como tidak hanya sekadar bertahan hidup, mereka berakselerasi. Visi manajemen yang profesional dan dukungan finansial yang stabil membuat Como hanya butuh waktu dua tahun untuk merangkak naik ke Serie B. Puncaknya, pada akhir musim 2023-2024, penantian panjang selama 21 tahun berakhir. Como resmi kembali ke kasta tertinggi, Serie A, puncak piramida sepak bola Negeri Piza.
Pembantaian Pisa: Penegasan Status Kekuatan Baru
Memasuki musim 2025-2026, Como bukan lagi tim promosi yang sekadar lewat. Setelah finis di posisi ke-10 pada musim debutnya di Serie A (2024-2025), anak asuh Cesc Fabregas kini menjelma menjadi pemangsa di papan atas. Bukti terbaru tersaji pada Minggu, 22 Maret 2026, saat Como menjamu Pisa di pekan ke-30 Liga Italia.
Como tampil begitu dominan dan tanpa ampun. Gelombang serangan yang terstruktur rapi membuahkan kemenangan telak 5-0. Pesta gol dibuka oleh Assane Diao pada menit ke-7, disusul oleh penyelesaian klinis Anastasios Douvikas di menit ke-29. Di babak kedua, dominasi Como kian tak terbendung lewat gol Martin Baturina (48′), talenta muda Nico Paz (75′), dan ditutup oleh aksi Maximo Perrone (81′).
Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin biasa. Dengan total raihan 57 poin dari 30 pertandingan, Como kini bertengger kokoh di peringkat keempat klasemen sementara. Posisi ini menempatkan mereka di zona merah Liga Champions, sebuah pencapaian yang bahkan sulit dibayangkan oleh para pendukung fanatik mereka tujuh tahun silam.
Filosofi Fabregas dan Gairah Pemain Muda
Cesc Fabregas, yang memegang kendali kepelatihan, tampak sangat emosional usai laga melawan Pisa. Baginya, Como adalah proyek cinta yang ia bangun dengan penuh ketelitian. Ia menyoroti bagaimana tim ini bertransformasi dari identitas “tim provinsi” menjadi kekuatan yang diperhitungkan secara nasional.
“Sulit untuk tidak jatuh cinta dengan para pemain muda ini. Kami sedang mencapai apa yang kami targetkan dua tahun lalu. Kami tahu ke mana ingin menuju dan bagaimana cara mencapainya,” ujar mantan maestro lini tengah Arsenal dan Barcelona tersebut. Strategi Fabregas yang mengombinasikan pemain berpengalaman dengan darah muda berbakat telah menciptakan harmoni permainan yang atraktif sekaligus mematikan.
Penghormatan Terakhir untuk Michael Bambang Hartono
Di balik euforia kemenangan 5-0 atas Pisa, ada suasana haru yang menyelimuti seluruh elemen klub. Kemenangan besar ini datang hanya tiga hari setelah kabar duka wafatnya salah satu pemilik klub, Michael Bambang Hartono, pada Kamis, 19 Maret 2026.
Fabregas secara khusus mempersembahkan kemenangan ini untuk mendiang Michael Hartono. Ia menegaskan bahwa posisi Como saat ini tidak mungkin tercapai tanpa kepercayaan dan visi besar yang diletakkan oleh keluarga Hartono sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di Como.
“Kami kehilangan sosok yang sangat penting di klub. Ia harus dikenang dengan penuh cinta, kemenangan ini untuk Michael dan seluruh keluarga Hartono,” tutur Fabregas dengan nada penuh rasa hormat. Bagi Como, keluarga Hartono bukan sekadar investor, melainkan arsitek yang membangun kembali harga diri kota ini lewat sepak bola.
Menatap Masa Depan: Ambisi Tanpa Batas
Kini, dengan delapan pertandingan tersisa di musim 2025-2026, target Como sudah sangat jelas: mengamankan tiket ke Liga Champions. Jika mereka berhasil menjaga konsistensi, musim depan lagu kebangsaan Liga Champions akan bergema di tepi Danau Como—sesuatu yang dulunya dianggap sebagai dongeng di siang bolong saat mereka masih berjibaku di Serie D.
Perjalanan Como 1907 adalah bukti bahwa sepak bola, ketika dikelola dengan hati dan manajemen yang visioner, dapat menciptakan keajaiban. Dari kasta keempat menuju panggung elit Eropa, Como telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar singgah, melainkan datang untuk menaklukkan. Seperti kata Fabregas, proses ini adalah sesuatu untuk dinikmati, dan dunia kini sedang menyaksikan lahirnya sejarah baru di Italia.
Related posts:
Pelatih baru Luciano Spalletti masih yakin dengan peluang Juventus untuk meraih gelar juara
Malam Panas di Istanbul: Galatasaray Tantang Liverpool di Babak 16 Besar Liga Champions
Lautaro Martinez Tembus 3 Besar Pencetak Gol Terbanyak Inter Milan
Pertempuran di Olimpico: Analisis Taktis Lazio vs AC Milan, Ambisi Menembus Zona Eropa
